Sunday, March 6, 2011

Journey to the Lokalisasi Rawa Malang


Aku duduk di dalam mobil sambil mengamati keadaan sekitar. Jalanan Cakung Cilincing yang banyak dilalui oleh truk-truk besar dan truk kontainer berlalu lalang tiada henti. Hal ini disebabkan di daerah Cilincing banyak terdapat pangkalan-pangkalan peti kemas yang siap dikirim ke seluruh daerah. Oleh karena itu juga, jalan Cakung Cilincing mempunyai jalur yang besar yang dapat dilintasi oleh 3 truk kontainer.
Mobilku melaju dengan cepat lalu berbelok ke arah Jalan Akses Marunda. Tak lama berselang, mobilku dibawa ke arah perumahan warga. Lebih tepat disebut perkampungan warga karena jalannya yang sempit hanya bisa dilalui oleh dua mobil. Perkampungan ini masih terlihat biasa-biasa saja. Para muda-mudi berlalu lalang, orang tua duduk di depan rumah sambil mengamati keadaan sekitar.
Jujur saja, aku disorientasi arah. Aku tidak tau aku berada di mana sekarang. Aku hanya tau, aku berada di arah menuju ke Marunda sana. Tak lama kemudian, aku melewati kolong jembatan yang ternyata jalan akses ke Marunda yang tadi aku lewati. Brarti aku tidak lagi menuju ke arah Marunda.
Jalan yang aku lewati sudah keluar dari perkampungan yang tadi. Sekarang aku berada di samping Kali Cakung Drain. Rumah-rumah warga mulai menghilang. Di sebelah kanan ku hanya ada pohon pisang dan semak-semak. Beberapa kali ada warung kecil yang tutup. Oh! Ternyata setelah diperhatikan, itu bukan warung, melainkan bar kecil atau sering disebut warung remang-remang). Hal ini bisa dilihat dari papan nama yang disponsori oleh bir-bir terkenal.
Di sebelah kiriku terdapat kali Cakung Drain. Ada beberapa kapal yang bersandar di sebrang kali itu. Daratan di sebrang sana hanyalah tumpukan sampah. Tak lama setelah aku melihat tumpukan sampah, pandanganku terhalang oleh warung-warung yang berdiri di bantaran kali. Warung ini sama dengan warung yang tadi berada di sebelah kanan. Warung remang-remang tepatnya.
Karena pada saat aku pergi masih pagi menjelang siang, hampir seluruh warung tersebut tutup. Tidak banyak orang yang berlalu lalang di jalan yang sempit ini. Jalanan yang aku lalui hanya untuk 1 jalur. Maksimal 2 mobil itupun sudah mepet kanan kiri.
Tak lama berselang lagi, warung-warung di sebelah kananku menghilang. Digantikan hamparan tanah luas dengan nisan kayu tertancap di tanah tersebut. Ternyata itu kuburan. Kuburan Budi Dharma tepatnya. Bergidik! Jelas. Ratusan bahkan ribuan nisan berada di sana.
Supirku memberikan aba-aba untuk bersiap diri. Katanya sebentar lagi aku sampai di kawasan lokalisasi Rawa Malang. Semua barang elektronik aku letakkan di bawah kursi. Hal ini untuk berjaga-jaga karena tempat ini termasuk lokasi yang rawan tindak kejahatan.
Mobilku diparkir di bak sampah besar yang kosong di bantaran kali Cakung Drain. Ternyata aku sudah sampai. Lokalisasi itu berada tepat di sebelah tanah kuburan. Dengan gerbang jembatan yang melintasi kali kecil di sebelah kananku. Ternyata jalan yang kulalui tadi diapit oleh 2 kali. Kali Cakung Drain dan 1 kali kecil ini.
Supirku berada di depan. 2 orang preman yang duduk di jembatan kali langsung berdiri saat kami lewat. Dengan pandangan tidak senonoh, mereka memperhatikanku. Ternyata lokalisasi ini seperti perkampungan warga. Memiliki 4 gang kecil yang hanya bisa dilalui oleh orang. Tetapi jika di perkampungan warga ada rumah, disini yang ada hanyalah bar-bar dan warung kelontong.
Menurut orang disana, 1 bar atau warung biasa ditempati oleh 10-15 PSK. Aku tidak melihat banyak wanita-wanita yang berkeliaran. Sepi. Mungkin karena mereka baru selsai bekerja sehingga masih terlelap. Yang ada hanya preman-preman yang berjalan ataupun duduk-duduk sambil merokok.
Aku tidak berani mengeluarkan hp. Apalagi kamera. Untuk bisa masuk lebih dalam saja, aku tidak berani karena preman disana sudah siap siaga sambil memperhatikan kami. Akhirnya, setelah melihat-lihat dan memperhatikan keadaan di sana, aku kembali lagi ke dalam mobil tanpa membawa 1 foto yang bisa diabadikan.
Maka dari itu, hanya cerita inilah yang bisa kubuat untuk menyajikan keadaan di sana. 



Salam, 
Diansutedja

Saturday, March 5, 2011

angin~

Kau seperti angin. membuatku terlena.
lalu pergi. membuatku terluka.


diansutedja

Wednesday, March 2, 2011

Keadaan, perasaan dan pikiran~

Bagai merpati dengan sayap yang patah.
Aku disini tertunduk lesu
Rapuh
Lemah
Dipermainkan oleh keadaan
Dipermainkan oleh perasaan
Dipermainkan oleh pikiran

Mungkin bukan kamu yang salah
Bukan juga aku
Keadaan yang memaksa kita bersikap seperti ini
Mengambil tindakan seperti ini

Bukan, bukan kamu yang salah
Atau mungkinkah aku yang salah?
Terlalu mudah dipermainkan oleh semua itu.
Keadaan, perasaan dan pikiran.

Aku bagai merpati
dengan sayapnya yang patah.
Ingin terbang tapi tak bisa
Ingin pulang tapi tak sanggup

Keadaan, 
perasaan, 
pikiran.

Terima kasih telah buat hariku berlalu seperti ini

Salam, 

Diansutedja