Tuesday, February 1, 2011

Bride In Dream~


Ini adalah salah satu buah imajinasi gw beberapa tahun lalu... :)
Selamat menikmati.....
[Bab][Satu]


Pertemuan tak diduga itu terjadi begitu cepat.....
Tito berjalan cepat di pelataran parkir Green Mall. Tangan kanannya memegang sebuah gelas berisi kopi hangat sedangkan tangan kirinya penuh dengan bungkusan plastik berisi baju pesta milik adiknya, Bertha.
Tiba-tiba....
“Bruuuk.....,” Ve yang baru saja keluar dari mobilnya bertabrakan dengan Tito yang sedang terburu-buru. Karena merasa tidak bersalah, Tito langsung memasang pasang lebih jutek daripada sebelumnya. Perasaannya sedang tidak ingin diganggu gugat dengan segala macam kejadian tidak penting seperti ini.
“Maap.. Maap... Aku ga sengaja,” ujar Ve sambil menunduk meminta maaf. Saat melihat gelas yang sedari tadi dijaga Tito agar tidak tumpah tergelincir dari tangannya dan mengenai baju Tito, Ve langsung mengeluarkan sapu tangannya.
“Shit....,” gumam Tito kesal. Baju kesayangannya jadi terkena bercak kopi yang pastinya susah hilang.
“Maap ya, Mas!! Aku ga sengaja.. Aku ganti biaya laundry-nya deh,” ujar Ve panik melihat wajah sangar Tito. Ia langsung mengeluarkan uang seratus ribuan dari dompetnya dan diberikan ke Tito.
“Udah.. Udah.... Ganggu aja lo!! Lagi buru-buru nich,” ujar Tito sambil berlalu dari pandangan Ve tanpa mengambil uang yang diberikannya untuk biaya laundry. Ve hanya bisa bengong dan tersadar kembali saat Anes, kakaknya memanggil namanya berkali-kali.
Dan sepertinya Tuhan telah mengatur pertemuan kembali kedua manusia itu. Hari ini, jam ini, menit ini, dan detik ini, Ve bertemu kembali dengan Tito di sekolah ini, SMA Angkasa.
Ve merasa senang karena bisa bertemu kembali dengan cowo yang belakangan ini selalu datang di mimpi-mimpinya setiap malam. Bukan mimpi yang indah sich, bisa dibilang buruk malah, soalnya di mimpi itu, Ve dibentak-bentak, dimaki-maki, diomel-omelin sama mahkluk yang sekarang sedang asyik sendiri duduk di pojok belakang kelas tanpa memperhatikan keadaan kelasnya.
“Tenang anak-anak.. Hari ini kita mempunyai seorang teman baru pindahan dari SMA Falencia,” ujar Bu Ersa, wali kelas 3 IPS 5, sambil menyuruh anak-anak muridnya agar lebih tenang.
Semua mata langsung menatap Ve yang sekarang berada di samping Bu Ersa. Berbagai komentar langsung terlontar dari mulut anak-anak sekelas.
“Perkenalan diri donk, Cantik!!” teriak Fandy, salah satu cowo bengal yang ada di kelas itu. Semua anak langsung bersorak menyetujui usul Fandy.
“Hmm.. Nama aku Vilentia Suryadi, panggil aja Ve,” ujar Ve memperkenalkan diri sambil tersenyum.
“Kok cuman segitu??” seru Fandy kecewa.
“Eh, ngomong-ngomong kenapa lo pindah dari SMA Falencia? Sekolah itu kan lebih bagus dari sekolah ini. Ga lulus ya?” tanya Dara, cewe centil yang sepertinya tidak senang dengan kedatangan Ve.
“Hmm.. Bukan begitu.. Sekolah ini juga sama bagusnya kan dengan SMA Falencia. Aku pindah ke sini soalnya lebih dekat dengan apartemenku,” jawab Ve tenang.
“Wah, kamu tinggal di apartemen? Apartemen mana? Tinggal sendiri ya? Boleh donk sekali-kali ajak kita maen ke apart kamu..” ujar Sandy centil. Semua anak bersorak mendengar perkataan Sandy.
“Aku tinggal di Green Summit. Aku tinggal sendiri. Tapi kadang-kadang kakakku sering nginap di sana. Kalo mau maen boleh aja, tapi jangan lupa bawa makanan ya.. Hehehe...”
“Woow.....” gumam anak-anak kompak.
Green Summit Apartemen, apartement yang baru selesai dibangun setahun lalu yang terletak persis di sebelah Green Mall. Semua fasilitas ada di sana, dari kolam renang, gym, biliard center, sampai spa juga ada. Apartemen itu juga terkenal dengan harganya yang selangit.
“Wah, berarti lo orang kaya donk. Tinggalnya aja di Green Summit,” ujar Dara sirik. “Tapi pasti lebih kaya gue, soalnya gue tinggal di kompleks Izza Permai,” lanjutnya mulai menyombongkan dirinya.
“Ouu.. Kamu tinggal di sana? Aku juga punya rumah di sana, yang satu dipakai sama grandma ku, yang satunya lagi cuma buat peristirahatan orangtuaku kalo pulang ke Indonesia,” jawab Ve membalikkan kesombongan Dara. Dara langsung manyun dan diam saja di kursinya. Semua anak yang tidak suka dengan kelakuan Dara langsung cekikikan melihat musuhnya diam tak berkutik.
“Yah baik... Sekarang kamu pilih tempat duduk. Ada beberapa tempat kosong yang bisa kamu pilih,” kata Bu Ersa sambil menunjuk beberapa kursi kosong.
“Saya mau yang di belakang itu, Bu!!” ujar Ve langsung tanpa mendengar saran dari Bu Ersa.
“Hmm.. Kamu yakin mau duduk di sana?” taya Bu Ersa ragu-ragu. Sudah sebulan belakangan ini tidak ada yang mau duduk di sebelah Tito. Entah mengapa, banyak alasan yang keluar dari mulut anak-anak sekelas tentang Tito.   
“Yakin, Bu!!” jawab Ve sambil berjalan menuju kursi kosong di sebelah Tito.
Semua mata menatap Ve dengan ragu. Gumam-gumam kembali memenuhi kelas itu. Tapi Ve tetap sebodo amat, yang terpenting sekarang ia bisa bertemu kembali dengan cowo yang menyita pikirannya itu.
“Hai.. Masih inget aku?” tanya Ve sambil mengulurkan tangannya mengajak bersalaman. Tapi cowo yang di depannya itu hanya memandangnya sebentar lalu berpaling lagi dan tidak menghiraukan tangan Ve yang masih mengambang di udara menunggu sambutan dari tangannya.
Ve mengerutkan keningnya lalu mengulang pertanyaannya kembali. “Kamu masih inget aku ga??” tanyanya lagi. Tapi sepertinya cowo di depannya tidak mau ambil pusing dan memilih sibuk dengan pikirannya. “Aku ini cewe yang waktu itu.....,”
“Numpahin kopi gue sampe-sampe baju gue kotor semua,” lanjutnya membuat senyuman di wajah Ve merekah.
“Wah, kamu masih inget sama aku.. Senangnya....,” gumam Ve senang.
“Lo diliatin tuh sama Pak Re,” ujarnya membuat Ve ingat bahwa ia sedang berada di kelas.
“Nama kamu siapa?” tanya Ve dengan volume suara kecil.
“Ih.. Lo tuh banyak tanya banget ya. Nama gue Tito.. Puas? Udah, jangan ganggu gue,” bentaknya membuat Ve terdiam tapi tidak menghilangkan senyuman dari wajahnya.

Ve menekan beberapa digit nomer dan membuka pintu apartemennya. Sebelum masuk, tak lupa diambilnya id card di mesin kecil sebelah pintu.
Saat memasuki apartemennya, Ve mencium aroma masakan dari ruang makan. Ia langsung menuju ke sana dan sesampainya di sana, Ve melihat fettuccini kesukaannya masih mengepul panas yang berarti baru selesai di masak.
“Alow, Ve!! Gimana kabarmu hari ini? Baik-baik aja kan??” tanya seorang cowo yang berdiri membelakangi Ve karena sedang mencuci peralatan masak di wastafel dapur.
“Anes........ Kok dateng ga bilang-bilang??” tanya Ve excited karena setau dia, Anes sedang sibuk mengurus kepindahannya ke apartemen ini. “Chilla mana??” tanya Ve lagi sambil celingukan mencari kakak iparnya.
Anes memang baru saja menikah dengan Chilla, perempuan manis nan lembut yang ditemuinya di Paris dua tahun yang lalu. Dan secepatnya mereka akan pindah ke apartemen yang sama dengan Ve. Kemungkinan kamar mereka berada di dua lantai atas dari kamar Ve karena semua kamar dari lantai 1 sampai 11, sudah habis terjual. Jadi kemungkinan besar kamar mereka terletak di lantai 12.
“Chilla lagi di bagian pemasaran. Lagi ngurusin apart yang baru,” jelas Anes sambil terus mencuci. Sedangkan Ve sudah melahap fettucinni yang dibuat oleh Anes.
“Lho kok bukan kamu yang ngurusin... Dasar malas!!” cecar Ve sambil terus makan. Anes yang sudah selesai mencuci, duduk di depan Ve.
“Tadi aku udah nyuruh dia yang ke sini duluan tapi dia nya ga mau. Katanya aku disuruh masak dulu buat kamu.”
“Ooh....”
“O,iya.. Gimana sekolah barunya??”
“Iya, Nes.... Aku ketemu sama cowo yang waktu itu aku tabrak di parkiran Mall... Yang aku ceritain ke kamu itu lho....”
“Ooh.. Yang kata kamu jutek itu? Ketemu di mana?” tanya Anes.
“Dia sekelas sama aku.... ternyata dia jutek banget. Sampe-sampe anak-anak sekelas ga ada yang mau duduk di sebelah dia. Dan akhirnya....”
“Kamu yang duduk di sebelah dia??” tebak Anes tepat sasaran. Ve mengangguk pasti dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
“Iya... Tadi sepanjang jam pelajaran, aku coba ngajak ngomong dia. Tapi dia nyuekin aku. Akhirnya kesel-kesel dia ngebentak aku sampe satu kelas ngeliatin aku sama dia. Hehehe....”
“Ve.. Ve... Kamu tuh!! Ga usah berurusan sama orang kayak gitu lah. Nanti kamu jatuh cinta sama dia, bisa repot urusannya..”
“Tenang aja, Nes... Kamu tau kan, aku orangnya gimana?? Aku cuma mau bantu dia aja. Dari penglihatanku sepanjang hari tadi, he had some problems, broo!!”
“Tau dari mana kamu??”
“I can see that...”
“Dasar psikolog..”
“Hehehe.... Calon psikolog nich...”
Akhirnya tak lama kemudian, bel pintu berbunyi memutuskan pembicaraan kakak adik itu. Anes langsung bergegas untuk membuka pintu.
“Sapa, Nes???” tanya Ve setengah berteriak.
“My lovely wife,” jawab Anes sambil merangkul Chilla yang tetap saja cantik hanya dengan memakai kaus dan celana jeans belel. Malah sepertinya inner beauty nya semakin nyata terlihat ke permukaan. J
“Met sore, kakak ipar....” sapa Ve sambil berjalan mendekati pasangan muda itu.
“Met sore, adik ipar...” balas Chilla sambil tersenyum. “Gimana kabarmu hari ini??” lanjutnya sambil memperhatikan isi apartement itu.
“Baik, kakak ipar,” jawab Ve. “Gimana? Udah liat apartemennya? Dapet di lantai berapa?”
“12.. Yah jadinya ga terlalu jauh sama kamu. Cuma beda 2 lantai,” jawab Chilla.
“Interiornya sama?”
“Yah ga terlalu beda.. Cuma letak kamarnya aja terbalik,” ujar Chilla sambil melihat ke sekeliling ruangan.
“Ooh.... Oiya.. Nes.. Chill.. aku ke kamar dulu ya.. Mau istirahat dulu.. Cape banget nich!!” ujar Ve sambil mengambil tasnya.
“Kamu ga papa kan??” tanya Anes khawatir. “Sini biar aku bawain tasnya,” lanjutnya sambil mengambil alih tas Ve.
“Ga papa kali, Nes.. Cuma cape aja..”
“Ya udah.. Kamu istirahat yang banyak aja.. Kalo ada apa-apa, kita ada di luar kok...” ujar Chilla sambil duduk di sofa ruang tv yang tepat berada di depan kamar Ve.
“Aduh... Kalian nich kenapa sich?? Aku ga papa kali... Cuma kecapean doank...”
“Itu yang ga boleh adikku chayang.... Kamu tuh ga boleh kecapean.. Nanti kalo sakit gimana?? Kan aku juga yang repot...” kata Anes sambil mendorong masuk Ve ke dalam kamarnya.
“Iya, kakakku chayang... Ya udah.. Aku istirahat,” ujar Ve sambil duduk di ranjangnya. “Lah, sekarang kamu mo ngapain di situ terus?? Katanya nyuruh aku istirahat.. Tapi malah ngeliatin aku kayak gitu..”
“Met istirahat ya, Ve ku chayang...” ujarnya sambil mencium kening Ve.
“Wew.... Udah.. Udah... Ngapain sich pake cium-cium segala.. Kan aku udah gede...”
“Hehehe.... Jarang-jarang kan aku cium kamu...”
“Dasar....” gumam Ve sambil melempar bantal ke arah Anes yang reflek menutup pintu sehingga bantalnya terkena pintu.
Ve berjalan mengambil bantalnya dan melemparnya ke ranjang. Ia membuka tirai jendela. Dari sana terlihat sibuknya kota Jakarta. Setelah puas memandang keluar, ia menutup kembali tirai itu dan merebahkan tubuhnya yang lelah.
“Sayang... Aku khawatir sama Ve nich!!” ujar Anes sambil merebahkan kepalanya ke pundak Chilla. Mereka sedang menonton tv di apartemen Ve.
“Kenapa, say?? Kamu takut penyakitnya kambuh??” tanya Chilla sambil mengelus rambut Anes.
Anes mengangguk pelan. “Kamu tenang aja.. Sekolahnya kan udah dekat sini. Lagipula sekarang kita tinggal satu gedung sama dia. Kita bisa ngontrol dia kapanpun kita mau... Lagipula, dia kan udah gede... Dia juga udah tau, pasti dia bisa jaga diri. Jadi kamu tenang aja ya,” ujar Chilla sambil terus mengelus rambut Anes untuk menenangkan suaminya itu.
“Tapi...”
“Udah... Aku jamin, dia bisa jaga diri..”
“Mudah-mudahan.... God bless her always...”
Akhirnya mereka larut dalam pikirannya masing-masing sepanjang sore itu.
Ve terbangun keesokkan harinya. Ia langsung membereskan tasnya dan bergegas mandi. Setelah itu ia menuju ruang makan, di meja sudah tersedia sarapan pagi untuknya dan secarik kertas kecil berisikan tulisan Anes.

Ve, aku sama Chilla pulang dulu ya.. Ada urusan pagi ini. Aku udah buatin nasi goreng buat sarapan sama sandwich buat bekal kamu ke sekolah. Dibawa ya.. Awas lho kalo ga.. Inget pesanku ya.. Jangan  terlalu kecapean.. oc? Nanti sore aku kalo sempat aku ke sini lagi..

With luph,
Anes
“Dasar Anes...” gumam Ve sambil duduk di kursi. Lalu dilahapnya nasi goreng yang ada dihadapannya itu. Setelah selesai, dimasukannya piring kotor itu ke dalam mesin cuci piring dan diambilnya kotak bekal yang sudah disiapkan oleh Anes. Lalu ia bergegas keluar dari apartemen itu karena jam sudah menunjukkan angka 7 kurang 20.
Seperti biasa, Ve berjalan menuju ke lift di ujung koridor. Tak sampai 5 menit, lift sudah terbuka, menunggu sang penekan tombol memasuki ruangan sempit di sana. Di dalam sana hanya ada dia sendiri sampai akhirnya di lantai 7 lift berhenti sebentar dan masuklah beberapa pelajar sepertinya.
Ia tersenyum saat salah satu dari mereka tersenyum ke arahnya. Sepertinya mereka adalah satu keluarga, yang paling besar ~yang tersenyum ke arahnya~ adalah seorang cewe sebayanya, dilihat dari seragam sekolahnya yang sama dengan Ve, berarti ia bersekolah di SMA Angkasa juga. Yang kedua, seorang cowo berseragam putih biru, sepertinya, ia adalah tipe kakak yang usil, karena sedari tadi Ve perhatikan, ia mengusili adiknya terus sampai akhirnya si adik menangis.
“Ruben, jangan buat adik kamu nangis donk!! Gimana sich??” tegur sang kakak membuat cowo berseragam yang dipanggil Ruben itu terdiam. “Kamu juga, Robin... Kalo Kak Ruben ngusilin kamu, bales aja...” lanjutnya sambil mengelus rambut anak SD yang dipanggil Robin olehnya.
Ve hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku kakak beradik itu. Dan tak lama kemudian, pintu lift terbuka di lantai dasar dan mereka bertiga keluar. Sedangkan Ve sendiri masih ada satu lantai lagi menuju tempat parkir di basement. Dan tak sampai semenit, pintu lift sudah terbuka lagi. Di sanalah Ve keluar dan menuju mobil VW beatle hijau yang terparkir rapi.
Ve langsung melajukan mobilnya keluar dari gedung dengan cepat karena jam digital di dashboard mobilnya sudah menunjukkan angka 6:47. Berarti hanya tinggal 13 menit lagi bel sekolah berdentang.
Di depan Green Summit, Ve melihat Ruben dan Robin naik bus sekolah yang perlahan-lahan berjalan meninggalkan pemberhentian bus sekolah itu. Sedangkan kakak perempuan mereka, berjalan menuju jalan raya yang sebentar lagi akan dilewati Ve dengan mobilnya.
Ia melihat cewe itu sedang menunggu jemputan, taksi atau semacamnya. Ve menginjak rem dan berheti tepat di depan cewe itu. Lalu ia membuka kaca mobilnya dan menyapa cewe itu, “Hi.... Mau ikut bareng aku??”
“Hah???” Cewe itu terlihat terkejut dengan kedatangan Ve. “Ga usah deh.. Itu di belakang udah ada taksi. Aku naik taksi ajah,” ujarnya sambil menunjuk ke belakang mobil Ve.
“Udah... daripada kamu buang-buang ongkos, kamu ikut aku ajah. Kita kan satu sekolah.” Masih terlihat keraguan dari wajahnya. “Udah... Ikut ajah. Mobil di belakang udah pada klaksonin kita nich. Ga enak...”
Akhirnya, setelah dipaksa seperti itu, cewe itu masuk juga ke dalam mobil dan duduk di sebelah Ve tanpa banyak bicara.
Setelah diam beberapa saat, Ve membuka pembicaraan juga. “Nama kamu siapa?” tanya Ve sambil menatap mata cewe itu. Lampu lalu lintas berwarna merah membuat semua kendaraan berhenti.
“Ruby Giselle Fransesca. Terserah kamu mau panggil aku apa. Biasa aku dipanggil Giselle. Tapi ada juga yang manggil aku Ruby,” jelasnya panjang lebar mengenai namanya. Tapi setelah itu, ia diam lagi menunggu pertanyaan selanjutnya.
“Kok kamu ga nanya nama aku sich??” tanya Ve sedikit bercanda untuk mencairkan suasana yang beku selayaknya musim dingin di Eropa sana.
“Aku udah tau nama kamu. Vilentia Suryadi kan? Biasa dipanggil Ve..” jelasnya membuat Ve bingung. Ia melajukan mobilnya lagi dengan perlahan sampai akhirnya menambah kecepatan karena jalanan sudah sedikit lenggang.  “Aku tau dari Dara,” katanya seraya menjawab pertanyaan yang ada di benak Ve sekarang.
Ve hanya mengangguk-angguk. Tak sampai 100 meter lagi, mereka sampai di SMA Angkasa. “Ve, aku turun di sini aja,” kata Giselle sambil bersiap-siap untuk turun.
“Sekalian ajah..” tawar Ve dengan bingung.
“Ga usah.. Biar aku turun di sini..” jawab Giselle pelan tetapi pasti atau lebih tepat dibilang ketus.
Akhirnya mau tak mau, Ve menginjak rem dengan perlahan dan mobil pun berhenti tak jauh dari sekolah. Giselle langsung keluar dari mobil setelah berucap terima kasih.
Ve yang masih bingung dengan sikap Giselle hanya bisa mengangkat bahu sambil melajukan mobilnya ke parkiran sekolah yang mulai padat. Setelah memarkirkan mobilnya, ia pun turun dan menuju ke kelasnya.
Siang hari saat jam bubaran sekolah di lapangan parkir.
Ve baru saja mau mengeluarkan kunci mobilnya saat kejadian di dekatnya menyita perhatiannya. Ve berlindung di balik mobil jeep hijau milik salah satu adik kelasnya. Dari sana ia bisa melihat semua kejadian itu dengan jelas.
“Heh... Bawain nich tas gue..” ujar Dara ke Giselle yang pasrah menerima tas Dara yang berat. Lalu beberapa temannya menyampirkan tas masing-masing di bahu Giselle yang hanya bisa menerimanya dengan pasrah.
Lalu dengan langkah lunglai, ia berjalan mengikuti Dara n the gank menuju Kijang Innova pink milik Dara itu. Lalu satu persatu mereka memasuki mobil itu sampai akhirnya mobil itu melaju kencang meninggalkan debu yang berterbangan di sekitar parkiran.
Ve keluar dari tempat persembunyiannya dengan pikiran yang bingung. Ia tak percaya dengan kejadian yang barusan dilihatnya. Seorang Giselle ditindas oleh Dara n the gank.
Akhirnya masih dengan pikiran yang kalut, Ve masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya ke apartemennya yang sudah menunggu kedatangannya karena sebuah kejutan yang sangat mengejutkan pastinya.



[Bab][Dua]
Ve memarkir mobilnya di basement apartemennya. Lalu dengan berjalan santai, ia memutar-mutar kunci mobilnya sambil bersenandung lagu favoritenya. Ia berjalan ke arah lift dan ditekannya tombol tanda panah atas yang berada di dinding. Sambil menunggu lift, ia terus bersenandung, sampai akhirnya pintu lift terbuka.
Ia masuk ke dalam lift dan menekan tombol angka 10 di dinding lift. Di lantai dasar, lift berhenti sebentar dan pintu lift terbuka. Dilihatnya Giselle sedang berdiri di depannya dengan wajah bete. Tetapi sebelum Ve mengeluarkan sepatah kata pun, Giselle sudah pergi dari depan lift sambil melengos kesal dan pintu lift pun tertutup kembali. Ve hanya bisa bingung dan tak lama kemudian pintu lift pun terbuka di lantai 10.
Ve keluar lift sambil mengeluarkan id card dari dalam tasnya. Saat ia membuka pintu apartementnya, ia melihat sesosok lelaki duduk membelakanginya. Ia duduk di ruang tamu seperti sedang menunggu seseorang. Ve sampai keluar lagi untuk meyakinkan dirinya tidak memasuki apartement yang salah. Tapi saat dilihatnya angka 1015 di pintu apartementnya, ia menjadi yakin tidak memasuki apartement orang lain.
Siapa tuh?? Yang pasti bukan Anes. Anes ga setinggi itu, pikirnya panik. Ia mengeluarkan buku Sejarahnya yang tebal dan bersiap-siap untuk memukul. Lalu sesampainya di belakang lelaki itu, ia langsung memukul kepalanya dengan buku itu. Lelaki itu berteriak kesakitan dan langsung membalik badannya sambil mengusap kepalanya yang sakit.
“Tito??? Ngapain kamu di sini??” tanya Ve kaget saat dilihatnya wajah lelaki itu. Tito hanya bisa mengelus kepalanya sambil menggerutu kesal.
“Duh ada apa nich ribut-ribut?” tanya Anes menghampiri ke ruang tamu sambil membawa 2 kaleng pocari sweat dingin dari kulkas. “Ya ampun, Tito.. Lo ga papa kan? Diapain sama Ve??” tanya Anes saat melihat Tito mengelus kepalanya. Lalu Anes pun menghampiri mereka.
Ve mengangkat bukunya dengan perasaan bersalah. “Tadi aku pukul dia pake buku ini.. Abisnya aku pikir maling...” ujar Ve dengan perasaan bersalah. Ve menatap Tito penuh harap agar tidak melihat sorot kemarahan di matanya. Tapi ia mendapatkan sorot itu dari Tito. “Maafin aku yah,” lanjut Ve sambil mengulurkan tangannya.
Tito mengulurkan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya masih mengusap kepalanya yang berdenyut sakit. Setelah menyalami Ve, Tito langsung menarik tangannya dan duduk kembali.
“Jadi yang harus aku jagain itu, dia?” tanya Tito sambil menatap Anes.
Anes mengangguk mantap. “Iya... Kalian berdua udah kenal?” tanya Anes bingung.
Ve yang masih belum mengerti dengan pembicaraan itu, menarik tangan Anes dan membawanya pergi dari ruang tamu. Mereka berhenti di ruang tengah yang agak jauh dari ruang tamu.
“Maksudnya apa sich? Kok Tito ada di sini? Udah gitu maksudnya ngejagain aku apa?” tanya Ve terus-terusan. Anes yang mendengar hanya geleng-geleng kepala sambil memegang kedua lengan Ve.
“Kamu tenang dulu donk. Kalo kamu ga tenang, aku mana bisa ngejelasin,” ujar Anes membuat Ve langsung tenang dan diam. “Kamu kenal dia?” tanya Anes kemudian.
“Yah kenallah. Dia kan teman sekelas aku. Dan dia itu cowo yang waktu itu aku ceritain ke kamu,” jawab Ve. Ve mulai gelisah lagi karena Anes tidak memulai penjelasannya.
“Dia cowo yang kamu ceritain?? OoO... Pantesan pas aku dengar namanya udah ga asing gitu,” ujar Anes.
“Duh, jangan berbelit-belit gitu dunk.. Udah gitu maksudnya jagain aku tuh apa?” tanya Ve ga sabaran.
“Ok.. Ok.. Aku ceritain... Kemaren kan aku lagi sama Chilla di kantor, aku bilang sama dia kalo aku mau nyari cowo buat jagain kamu. Eh, Pak Hendra dengar dan dia menawarkan anaknya untuk jagain kamu. Dia bilang, anaknya seumuran sama kamu. Aku pikir boleh juga, jadi aku kasih alamat apartement kamu dan nyuruh dia dateng hari ini,” jelas Anes panjang lebar. “Tapi aku ga tau kalo cowo itu adalah cowo yang sama dengan yang kamu ceritain ke aku.”
“Nes, emangnya aku butuh penjaga ya?” tanya Ve dengan sedih. Berarti Anes sudah tidak percaya lagi dengannya sampai-sampai ia kerepotan mencari penjaga untuknya.
Anes mengelus kepalanya dengan penuh kasih sayang. “Ve, aku bukannya ga percaya sama kamu. Tapi dengan adanya kejadian beberapa hari lalu, aku jadi tau kesehatan kamu mulai menurun. Dan aku ga mau kamu terlalu cape. Aku belum siap untuk kamu tinggalin,” ujar Anes dengan mata berkaca-kaca.
Ve merasa disambar beribu-ribu petir. Ia mengusap air mata kakaknya itu dan memeluknya dengan erat. “Nes, aku ga bakal tinggalin kamu. Aku bakal tetap ada di hati kamu selamanya walaupun aku udah ga ada,” ucap Ve sambil menaruh telapak tangannya di dada Anes.
 “Hmm... Permisi.. Saya ga ada maksud mengganggu nich, tapi di depan ada yang mencari.......” ujar Tito ga selesai karena bingung mau mamanggil Anes dengan sebutan apa.
“Panggil aja Anes,” jawab Anes diikuti dengan anggukan kepala Tito. Ve melepaskan pelukkannya dan mengusap air mata Anes yang masih menggenang di pelupuk matanya.
Tito memandang mereka dengan tatapan aneh. Mungkin dikarenakan sikap mereka berdua yang tidak seperti kakak adik selayaknya. Tapi tanpa berkomentar banyak, ia kembali ke ruang tamu.
Anes mengikuti Tito berjalan ke ruang tamu, sedangkan Ve masih terdiam di ruang keluarga. Tiba-tiba saja ia teringat sesuatu, dan lantas mengejar Anes yang belum terlalu jauh.
“Nes,” panggil Ve. Anes berheti dan berbalik ke arahnya.
“Kenapa lagi, adikku sayang?” tanya Anes.
“Kamu belum kasih tau tentang penyakit aku kan?” tanya Ve dengan volume suara yang kecil.
Anes menggelengkan kepalanya. “Emangnya kenapa? Kamu ga mau dia tau??” tanya Anes.
Ve mengangguk mantap. “Aku ga mau ada yang tau tentang penyakitku. Ok?”
“Nanti kalo dia tanya kenapa kamu butuh panjaga, aku jawabnya apa?” tanya Anes bingung.
“Yah terserah kamu mau jawab apa, itu urusan kamu.. Hehehe...”
“Iya, adikku yang cerewet,” jawab Anes sambil mengelus kepala Ve lagi. Lalu ia pun berlalu dari hadapan Ve dan menghilang di balik tembok pemisah ruang tamu dan ruang keluarga.
Akhirnya hanya Ve dan Tito yang tertinggal di apartement ini. Mereka berdua bingung mau memulai pembicaraan dari mana. Akhirnya setelah beberapa lama berdiam diri, Tito memberanikan diri untuk memulai pembicaraan.
“Hmm.. Saya harus panggil kamu apa nich?” tanya Tito membuka pembicaraan.
“Jangan terlalu formallah. Panggil nama ajah. Udah gitu jangan pake saya yah, kesannya gimana gitu. Pake aku kamu ajah. Kalo ga pake gue lo juga ga papa.”
“Ya udah. Pake aku kamu ajah. Untuk lebih menghormati orang yang udah kasih aku kerjaan dan pergi dari rumah itu,” ujar Tito dengan mata kosong.
Ve yang memperhatikannya sejak tadi ingin menanyakan hal itu, tapi ia masih tidak enak. Akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk lebih tau tentang penjaganya itu.
“O,iya.. Tadi aku dengar, kamu tinggal di apartementnya Anes dulu ya?” tanya Ve.
Tito mengangguk dan mengiyakan. “Kata Anes biar lebih dekat dengan kamu jadi aku boleh pake apartementnya dia. Lagipula katanya dia sama Chilla bakal pergi selama beberapa bulan dari Jakarta. Jadi sekalian jagain apartementnya gitu  deh,” jawab Tito panjang lebar.
Ve hanya mengangguk mengiyakan penjelasan Tito. Memang beberapa bulan ke depan, Anes dan Chilla akan pergi ke beberapa kota di Jawa untuk mengontrol cabang perusahaan yang berada di kota itu. Kalau tidak salah, mereka akan pergi ke Surabaya, Jogjakarta, Solo, Semarang, dan Bandung. Ve dan Anes sempat membicarakan hal itu beberapa hari yang lalu.
“Jadi kapan kamu mulai pindah?” tanya Ve selanjutnya. Suasana di ruangan itu sama sekali tidak ada hangat-hangatnya. Dingin malah. Tito yang tidak pernah menujukkan senyumannya membuat Ve jadi salah tingkah. Mau senyum salah, ga senyum juga salah.
“Secepatnya. Kata Anes, apartemetnya hari ini sudah bisa dipakai.”
“OoO.. Jadi kamu pindah hari ini?” tanya Ve mengharapkan Tito mengiyakan. Walaupun belum terlalu kenal, Ve bisa merasakan aman bila didekatnya. Ve juga percaya, Tito itu dapat dipercaya dan tidak akan mengkhianati kepercayaan Anes.
“Mungkin,” jawab Tito singkat.
“Hmmm....” Ve berpikir sejenak. “Kamu ke sini naek apa?’ tanya Ve akhirnya.
“Naek motor. Emangnya kenapa?”
“Gimana kalo misalkan sekarang kita ke rumah kamu dan ambil semua perlengkapan kamu? Kita pergi naek mobil aku ajah.. Gimana?” usul Ve membuat Tito berpikir sejenak. “Kan besok kita ada ulangan Sejarah. Jadi ga kemaleman nyampe sininya lagi,” lanjut Ve.
Tito berpikir sebentar lalu mengiyakan usulan Ve. Ve tersenyum senang dan berdiri untuk mengambil tasnya di ruang keluarga.
“Kamu mau ke mana?” tanya Tito sambil mengerutkan dahinya.
“Mau ambil kunci mobil di dalem tas aku lah,” jawab Ve heran.
“Sini aku ambilin. Tasnya di mana?”
“Di ruang keluarga. Yang warna hijau,” jawab Ve. Saat Tito menuju ke ruang keluarga, Ve hanya menghela napas panjang. Gila, semua terjadi begitu cepat dan di luar perkiraan, pikir Ve pusing.
“Yang ini, kan?” tanya Tito membuyarkan lamunan Ve.
“Oh.. Iya.. Yang itu,” jawab Ve sambil mengambil tasnya dari tangan Tito. Lalu ia mengambil kunci mobilnya dari dalam tas dan menyimpannya di dalam kantong rok sekolahnya.Ve juga tidak lupa mengambil hape dan dompetnya. “Yuk... Nanti keburu malem,” ajak Ve.
Ve berjalan keluar dan Tito mengikutinya dari belakang. Setelah mengunci pintu, mereka berjalan beriringan menuju lift. Di dalam lift, Ve sejenak memperhatikan Tito yang menyenderkan beban tubuhnya ke dinding lift. Ada segurat perasaan lelah di wajah tampannya.
Tiba-tiba Ve dikagetkan dengan tarikan tangan Tito. “Ngapain kamu ngeliatin aku sampai segitunya? Ada yang aneh ya di muka aku sampai-sampai dari tadi aku panggilin, kamu diam ajah?” tanya Tito sambil melepaskan tangannya.
Ve jadi malu sendiri. Ternyata ia ke’gep’ sedang memperhatikan Tito. Ternyata sejak tadi Tito memanggilnya karena lift sudah sampai ke lapangan parkir. Makanya sebelum pintu menutup, tangan Ve ditarik olehnya.
“Sorry.. Sorry... Tadi aku lagi ngelamun,” jawab Ve berbohong.
“OoO.. Lain kali, jangan suka ngelamun. Pantesan, Anes nyuruh aku ngejagain kamu. Pertamanya aku heran, kenapa cewe sebesar kamu kok harus dijagain. Tapi setelah kejadian tadi, aku jadi ga heran lagi,” ujar Tito. Ve hanya tersenyum.
Biarin dia berpikir kayak gitu, kata Ve dalam hati.
“Enaknya yah punya saudara seperhatian itu,” gumam Tito di luar sadarnya. Ve menatap Tito, ditemukannya sorot mata kosong lagi di sana. “Ngomong-ngomong, mobil kamu yang mana?” tanya Tito sambil memperhatikan puluhan mobil yang terpakir rapi di sana.
“Yang hijau itu,” jawab Ve sambil menunjuk ke arah VW Beatle hijau di dekat mereka. Lalu Ve mengeluarkan kunci mobilnya dari kantong.
“Sini kuncinya.. Biar aku yang nyetir ajah. Kata Anes, kamu ga boleh cape,” kata Tito sambil mengambil kunci mobil dari tangan Ve. Ve hanya bisa pasrah. Ia memang tidak boleh kecapean dan ia tidak mau bandel karena hal itu akan makin memperpendek umurnya yang sudah tidak lama lagi.
“Kamu udah ada SIM kan?” tanya Ve untuk meyakinkan dirinya.
“Udah.. Tenang ajah. Selama 5 tahun aku bawa mobil, belum ada sejarahnya aku nabrakin mobil sampe ringsek. Palingan baret dikit,” ujar Tito dengan mimik yang serius. Mungkin tadinya ia mau bercanda tapi di wajahnya tidak ada senyuman sedikitpun yang membuat Ve menjadi takut sendiri. “Bercanda doank kali. Ga bisa diajak bercanda yah,” lanjut Tito sambil menstater mobilnya.
Ve menghela napas lega. Tapi ia masih tidak habis pikir, mana ada orang bercanda dengan tampang serius. Cowo yang aneh!!!
Akhirnya Ve duduk di sebelah Tito yang asyik menyetir mobil sambil mengutak-atik cd Ve yang tersimpan rapi di cd case berbentuk kodok. “Ga papa kan kalo aku liat-liat koleksi cd kamu?” tanyanya setelah sudah membongkar seluruh koleksi cdnya.
“Ga papa kok,” jawab Ve sambil tersenyum paksa. Ih, aneh banget sich nich orang, udah ngutak-ngatik baru ngomong, ujar Ve dalam hati.
Ve tidak habis pikir ia akan menjadi sedekat ini dengan Tito. Padahal baru tadi pagi, ia berusaha mendekatkan diri dengan Tito tapi Tito nya masih bersih keras tidak mau berbicara dengannya. Tapi jam ini, menit ini, detik ini Tito berada di sebelahnya dan akan terus bersamanya setiap hari sampai waktu yang tidak bisa ditentukan.
Akhirnya Tito mengambil salah satu cd dan menyetelnya. Alunan lagu All American Reject menggema di dalam mobil kecil itu.
“Kamu suka lagu ini juga?” tanya Tito sambil menyenandungkan lagu itu.
“Yah gitu deh.. Lagunya enak. Energik,” jawab Ve. “Lagu itu bisa buat aku lebih ceria dan melupakan semua masalah aku,” lanjutnya.
“Emangnya kamu punya masalah? Kamu punya segalanya, kekayaan, saudara yang perhatian, apartement sendiri.. Apa lagi yang kurang??” tanya Tito membuat Ve terhenyak.
Andainya kamu tau, aku lebih memilih umur yang lebih panjang daripada segala harta yang aku punya, pikir Ve sedih.
“Aha.. Aku tau, pasti masalah kamu ga jauh-jauh dari cinta deh,” ujar Tito sok tau. Tapi Ve tidak mengiyakan atau meng’ga’kan. Sekarang, ia tidak punya banyak waktu untuk memikirkan cinta. Ia sudah kapok dan lebih baik memikirkan kesehatannya.
Karena Ve tidak menyahut akhirnya Tito pun tidak berbicara lebih banyak lagi. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing sampai akhirnya mobil itu berhenti di depan sebuah rumah besar di Izza Permai.
“Kamu mau ikut turun?” tanya Tito sambil mematikan mesin mobil. Ve tidak mendengar pertanyaan Tito karena ia sedang memperhatikan rumah Tito yang sama besarnya dengan rumahnya di daerah itu. “Halloooo...” ujar Tito sambil mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan Ve. Ve langsung tersadar dari pikirannya yang mulai menerka-nerka kehidupan Tito. “Kamu mau ikut turun ga?” ulang Tito dengan nada sedikit tidak sabaran.
“Hmm... Boleh juga,” jawab Ve sambil mengambil hapenya di dashboard dan memasukkannya ke saku bajunya. Ve mengikuti Tito memasuki rumah besar itu.
Sesampainya di ruang tamu, mereka disambut oleh 2 pelayan berseragam yang membukakan pintu besar. “Selamat sore, Tuan Muda!!” sapa mereka sambil membungkukkan badannya.
“Sore..” sapa Tito sambil melemparkan tasnya ke sofa dekat mereka. Salah satu dari mereka mengambil tas itu dan berjalan meninggalkan ruangan itu. “Ijah... Tunggu...” seru Tito menghentikan langkah pelayan ½ baya itu.
“Ada apa, Tuan Muda?” tanya perempuan yang dipanggil Ijah itu.
“Kamu sama Sri beresin baju aku, udah gitu masukin ke dalem koper. Udah gitu Si Marni beresin semua barang aku yang ada di atas meja komputer dan masukin ke dalam kardus. Bilang sama dia, hati-hati. Jangan sampai ada yang jatuh dan rusak.”
“Udah, Tuan? Ga ada yang diperlukan lagi??”
“Satu lagi, jangan lupa juga beresin semua buku pelajaran aku dan masukkan ke dalam tas basket yang warna merah.”
Ve hanya bisa bengong melihat Tito seenaknya menyuruh para pelayan itu bekerja. “Kenapa kamu ga kerjain sendiri?” tanya Ve bingung. Sebanyak-banyaknya pelayan yang ada di rumahnya, Ve sama sekali tidak pernah menyuruh mereka sampai segitunya.
“Lho.. Kalo gitu buat apa ada pelayan, kalo mereka cuma dibayar buat berleha-leha dan menikmati semua fasilitas rumah ini?” tanya Tito balik.
Ve cuma bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Aku masuk dulu. Kamu mau minum apa? Biar aku suruh Yuyun buat minuman.”
“Ga usah repot-repot.. Aku minum air putih ajah.”
“Ok..” gumamnya sambil melepas sepatu sneakersnya. “Yuyun....” panggil Tito. Tak lama kemudian, seorang perempuan berumur sekitar 12 tahun menghampiri mereka.
“Eh Tuan Muda udah pulang.. Kenapa panggil Yuyun? Ada perlu apa?” tanya perempuan itu dengan polos.
“Yuyun tolong bawain air putih 2 gelas yah.”
“Sip, Bos!!!” jawab Yuyun sambil mengancungkan jempolnya. “Tuan Muda ga mau minum susu coklat panas buatan Yuyun??” tanyanya manja.
“Hmm.. Boleh juga....” jawab Tito setelah berpikir sejenak. “Yang enak yah..” Yuyun mengancungkan jempolnya lagi lalu menghilang di balik tembok ruang tamu.
“Kamu tunggu di sini yah. Aku mau ke kamarku dulu. Ngeliat para pelayan itu kerja dengan bener pa ga..” ujarnya lalu pergi dari hadapan Ve.
Ve terdiam mencerna semua yang terjadi di hadapannya. Beribu pertanyaan muncul di benaknya. Dari sikap Tito terhadapnya, terhadap pelayan yang sudah berumur, dan terhadap Yuyun yang masih di bawah umur. Tapi ia degan cepat menguasai keadaan. Ia berkeliling untuk menghilangkan rasa ingin taunya. Ia memandang foto-foto keluarga yang tersusun rapi di dinding. Dari foto zaman Tito masih digendong sampai ia memegang piala di tangan kanan dan bola basket di tangan kiri.
Tiba-tiba, Ve dikagetkan dengan derit pintu yang terbuka dan langkah orang terburu-buru masuk. Ve mencari tau siapa yang masuk dan didapatinya seorang perempuan cantik berumur sekitar 15 tahun berdiri tepat di hadapannya. Perempuan itu sama dengan yang di dalam foto keluarga yang tergantung itu.
“Bertha?? Baru pulang??” tanya Tito mengagetkan Bertha dan Ve.
“Tito?? Tumben lo ada di rumah jam segini?? Biasanya keluyuran ga jelas,” ujar perempuan yang dipanggil Bertha oleh Tito. Sepertinya hubungan saudara kakak adik itu tidak berjalan dengan mulus. Ada kesan dingin dan kelam terpancar dari aura kedua bersaudara itu.
Ve yang merasa tidak seharusnya berada di sana, perlahan menyingkir menuju ke depan rumah itu. Tetapi Tito yang memperhatikan gerak-gerik Ve langsung berjalan ke arahnya dan menariknya kembali ke dalam rumah.
“Mulai sekarang, lo bakal bebas dari pengawasan langsung dari gue. Mungkin lo seneng pas papi bilang gue bakal keluar dari rumah ini. Dan sekaranglah waktunya. Gue bakal keluar dari neraka ini,” ujar Tito serius. Ve melihat perubahan raut wajah Bertha yang langsung dikuasainya dengan cepat. “Tapi, satu yang perlu lo ingat... Gue bakal terus ngawasin lo dari jauh,” tambah Tito dengan rahang mengeras.
“Ok... Silahkan pergi dari neraka ini.. Gue ga peduli,” teriak Bertha sambil meninggalkan ruang itu. Tapi belum sampai menghilang di balik tembok, Bertha berbalik dan menatap Ve dengan tajam. “Lo cewe yang namanya Ve kan?? Gue bilangin, lo jangan percaya sama bajingan itu,” teriaknya lalu berlari meninggalkan ruangan itu.
Ve memandang Tito dengan bingung. Tito membalas pandangan itu dengan mata menerawang dan berlalu dari hadapannya tanpa berkata sedikitpun. Tito duduk di sofa tidak jauh dari mereka. Ia menghempaskan seluruh beban badannya. Lalu ia menelungkupkan wajahnya di antara kedua tangannya. Depresi.
“Tuan Muda.... Susu coklat buatan Yuyun sudah siap. Dihabisin ya!!!” ujar Yuyun sambil menyodorkan segelas susu coklat panas untuk Tito.
“Wah, makasih yah, Yuyun...” ujar Tito sambil mengacak-acak  rambut keriting Yuyun yang tergerai rapi sebahu. Yuyun tersenyum puas sambil terus memandangi tuannya itu. “Lho... Minum buat Ve mana?” tanya Tito saat menyadari bahwa ada tamu di rumah itu. Yuyun langsung menatap tajam Ve dan melengos kesal.
“Ga usah deh.. Aku ga terlalu haus kok,” tolak Ve dengan halus. Sepertinya kedatangannya ke sana, tidak disambut dengan baik.
Tiba-tiba para pelayan yang tadi disuruh Tito datang ke ruang tamu sambil membawa kardus dan tas besar.
“Tuan muda mau ke mana?” tanya Yuyun bingung saat melihat barang Tuannya berada di dalam kardus yang masih terbuka.
“Mau pergi dari sini, Yuyun!! Kamu baik-baik yah...”
“Tuan Muda mau ke mana??? Kok pergi dari sini??” tanya Yuyun bertubi-tubi di sela isak tangisnya.
Tito mengusap air mata bening yang mengalir di pipi Yuyun. Lalu ia membisikkan sesuatu dan Yuyun pun berhenti menangis. “Tuan janji yah??”
“Iya.... Kapan sich aku ga nepatin janji aku sama kamu??”
Ve seperti melihat sepasang kekasih yang akan berpisah. Lalu setelah selesai menenangkan Yuyun, Tito pun bangkit dari duduknya. “Yah... Slamat tinggal neraka....” ujarnya sambil melambaikan tangannya tanpa menengok ke belakang lagi. Tak lupa ia membawa sekotak kardus kecil yang tadi dibawanya dari kamar.
Ketiga pelayan yang tadi disuruh Tito membereskan barang-barangnya, mengikutinya dari belakang sambil membawa semua barangnya yang sudah dikepak dengan rapi.
Tanpa menengok lagi ke arah rumahnya, Tito langsung masuk ke dalam mobil Ve. Ve yang sedari tadi mengikuti Tito langsung masuk juga ke dalam mobil itu.
Ve membantu Tito membawa kardus kecilnya menuju kamar apartementnya. Sedangkan Tito sendiri membawa koper-kopernya menuju ke lift.
Sesampainya di kamar Anes yang akan dihuni Tito, mereka masing-masing menghempaskan diri ke sofa merah di ruang keluarga. Memang seperti yang dikatakan Chilla waktu itu, disain interiornya tidak terlalu beda dengan apartement Ve. Hanya letak ruangan yang dibuat beda.
Apartement itu sebenarnya sudah layak huni. Tapi masih ada beberapa barang yang belum sempat dibeli oleh Anes dan Chilla.
“To, kita beresin barang-barang kamu dulu yukz. Udah gitu kita ke apartement aku. Nanti aku masakin makan malam buat kamu. Soalnya kayaknya Anes sama Chilla belum sempat menuhin kulkas,” ujar Ve sambil membuka-buka kulkas yang di dalamnya hanya ada beberapa kaleng minuman dingin.
“Ya udah... Sekarang aku mau beresin barang-barang aku dulu yah,” kata Tito sambil membawa kopernya ke dalam kamar.
“Sini aku bantuin,” ujar Ve sambil mengangkat kardus Tito.
Mereka memasuki kamar utama yang berada di bagian barat apartement itu.
Ve membuka tirai kamar itu. “Wah, pemandangannya sama kayak di kamar aku,” ujarnya sambil tersenyum.
Sedangkan Tito sedang memperhatikan isi kamar itu yang lebih terlihat sisi femininnya daripada sisi maskulinnya. Mungkin karena yang mengatur isi kamar itu adalah Chilla.
“Hmm.. Kenapa? Ga suka yah ma kamarnya?? Tadi kan Anes bilang kalo misalkan kamu mau ganti interiornya, ga papa..”
“Hah?? Ga kok... Begini juga udah pewe...”
“Ya udah. Kita beresin barang yang sangat amat penting dulu ajah.. Ok? Soalnya perutku udah keruyukan nich...”
“Ga usah deh kalo gitu. Kita ke apartemen kamu dulu ajh. Baru nanti aku beresin barang-barang aku sendiri,” ujar Tito sambil bangun dari tempat duduknya.
Akhirnya setelah beradu mulut, Ve mengalah juga. Mereka berjalan meninggalkan apartement itu dan menuju ke apartement Ve.
Ve membuka pintu apartementnya. Dan Titopun mengikutinya dari belakang. Ve menghempaskan tubuhnya di sofa empuk ruang tamu. “Istirahat dulu yah,” pinta Ve sambil melenturkan badannya yang terasa pegal.
“Ya udah. Kamu istirahat dulu ajah. Aku yang masak buat kamu..” ujar Tito sambil berjalan menuju ke dapur.
“Emangnya kamu bisa masak? Ga usahlah.. Aku ajah yang masak. Masa tuan rumah kok nyusahin tamu,” kata Ve sambil mengikuti Tito ke dapur.
“Udah.. Katanya kamu laper.. Dan kayaknya kamu cape. Mendingan kamu duduk diam di sana sambil tungguin aku masak.”
Ve hanya bisa duduk diam sambil melihat keterampilan Tito dalam memotong-motong sayuran yang didapatnya dari dalam kulkas. Setelah menunggu beberapa lama, aroma bawang putih yang sedang diongseng merebak ke seluruh ruangan. Untung saja, jendela sudah dibuka agar sirkulasi udara berjalan dengan lancar.
Tito mengusap keringat dengan lengan bajunya. Lalu, disajikannya cap cay ala Tito di meja makan.
“Wow.... Kamu jago masak ya?” tanya Ve takjub.
Tito tidak menanggapi komentar Ve. Ia hanya tersenyum sambil kembali lagi ke dapur. Ia memasukkan semua peralatan masa yang tadi dipakainya ke mesin cuci piring otomatis.
“Tito.... Aku makan duluan yah.. Udah ga tahan nich,” kata Ve sambil menyendokkan nasi ke piringnya.
“Ya sudah... Makan duluan ajh...” ujar Tito sambil membersihkan potongan sayur yang berserakan di atas meja dapur. Setelah selesai beberes, Tito berjalan menuju ke meja makan.
“Enak??” tanyanya sambil duduk di depan Ve.
“He eh....” jawab Ve sambil menganggukkan kepalanya berkali-kali.. “Enak banget,” lanjutnya setelah nasi di dalam mulutnya sudah tertelan. “Kamu makan juga yah....” ujar Ve sambil mengambilkan nasi ke piring yang berada di dekatnya. Lalu diberikannya ke Tito yang masih memandanginya. Ve yang merasa dipandangi merasa salah tingkah dan menundukkan kepalanya. Ia berpura-pura sibuk dengan makanannya yang sudah tinggal sedikit.
Lalu tanpa berbicara sedikitpun Tito menerima piring dari tangan Ve. Ia pun mengambil sayur yang ada di depannya.
Ve mengambil piringnya yang sudah kosong dan berjalan menuju ke mesin pencuci piring. Lalu sekembalinya, ia duduk kembali di tempatnya semula.
Ve mencuri-curi pandang ke Tito yang sedang asyik melahap nasi capcay di depannya. Ia selalu menangkap kesedihan di mata bening itu. To, rasanya aku pengen banget bisa hapus kesedihan kamu.. Tapi gimana caranya? pikir Ve dalam hati tanpa melepaskan tatapan matanya dari wajah tampan itu.
“Kenapa lihat-lihat? Ada yang aneh ya?” tanya Tito tanpa basa-basi membuat Ve salting.
“Hah... Ga kok... Aku cuman bingung ajah.. Kok kamu mau sich disuruh jagain aku? Tinggal jauh dari keluarga kamu... Ga bisa bebas kayak dulu lagi karena ada aku di sini yang harus kamu jagain... Harus jadi bodyguard selama Anes ga ada...”
“Ini lebih baik daripada aku harus tinggal di neraka itu,” jawab Tito membuat Ve mengernyitkan keningnya.
“Daritadi kamu menyebut neraka-neraka terus... Kalo boleh tau, kamu ada masalah apa?” tanya Ve ingin tau. “Kalo ga mau kasih tau juga ga papa kok... Aku ga maksa,” lanjutnya setelah melihat perubahan wajah Tito.
“Kamu udah belajar sejarah, blom? Besok ulangan bahannya banyak ga sich??” tanyanya mengalihkan pembicaraan.
“Blom nich.. Lumayan banyak sich... Tetang masa pemerintahan demokrasi liberal di Indonesia.. Yah lumayan lah... Kamu udah belajar?” tanya Ve.
Tito menggeleng. “Blom... Catetan aja aku ga punya.”
“Jadi kamu kalo ulangan belajar dari mana?” tanya Ve bingung.
“Ya hoki-hokian. Paling baca-baca dari buku cetak.”
“Ini ajh aku bingung mau belajar dari mana.. Abisnya kan aku baru masuk ke sekolah ini. Aku masih belum begitu tau cara pengajaran di situ,” ujar Ve sambil mengambil tasnya yang terletak tak jauh dari sana. Lalu ia mengeluarkan file dari dalam tasnya dan ditaruhnya di atas meja makan.
Tito melihat sekilas file hijau dari beludru yang disampul rapi dengan sampul bening. Mungkin hal itu dilakukan agar beludrunya tidak terkena debu dan kotoran lainnya.
“Aku ada sich catetan dari sekolah yang lama. Tapi takutnya ada hal-hal yang dijelasin sama Bu Fia, tapi ga dijelasin di sekolah yang lama,” lanjut Ve sambil membuka-buka filenya. Lalu matanya tertuju di satu kertas berjudulkan ‘KEHIDUPAN MASYARAKAT PADA DEMOKRASI LIBERAL’
“Kamu rajin juga yah!!” puji Tito sambil memperhatikan tulisan rapi di kertas-kertas itu.
“Ah... Ga juga... Kita belajar dari sini ajah ya... Sama dari buku paket juga.. Semoga aja catetannya sama,” ujar Ve sambil memberikan kertas-kertas itu ke Tito.
Akhirnya setelah itu, mereka belajar bersama sampai akhirnya Ve tertidur lelap di meja makan saat menunggu Tito selesai belajar dari catetannya.







-bersambung-

-diansutedja-
*yang mau dilanjut komen ya... hahaq~

5 comments:

  1. lanjut lanjut lanjut!!! dasar monyet tuh dara.. lu pikir lu sapa???

    ReplyDelete
  2. hahaha... dah gw lanjutin tu vin.. :)

    emang monet tu si dara.. *lho.. wkwk

    ReplyDelete
  3. “Lo cewe yang namanya Ve kan?? Gue bilangin, lo jangan percaya sama bajingan itu,”

    ReplyDelete
  4. haha.. gile... dah ad komen aj...
    di nulisnya pelan2 ntar ad yg kurang lagi kata2nya kyk diatas ne.. wkwkwk...

    ReplyDelete
  5. emangnya kata' apa yang kurang? hahaq.. itu gw copas koq.. dari word.. lol

    ReplyDelete